COCOMO (Constructive Cost Model)

Menurut Olson (2003, pp134-15), Constructive Cost Model (COCOMO) digunakan untuk menghitung usaha yang dibutuhkan untuk mengembangkan software. Pemodelan estimasi empiris dengan COCOMO dengan satu persamaan untuk memprediksi:

• Kemajuan proses pengembangan (satuan orang-bulan)

• Lamanya proyek

• Ukuran staf

• Jumlah baris kode program

 

COCOMO merupakan model perhitungan perangkat lunak secara hirarkis dikemukakan oleh Barry Boehm, dengan bentuk:

1. Basic COCOMO

Model static single valued yang menghitung kemajuan dan biaya pengembangan perangkat lunak sebagai fungsi dari ukuran program. Persamaan model Bsic COCOMO:

2. Intermediate COCOMO

Menghitung kemajuan pengembangan perangkat lunak sebagai fungsi dari ukuran program dan kumpulan komponen biaya lainnya. Pengembangan model COCOMO adalah dengan menambahkan atribut yang dapat menentukan jumlah biaya dan tenaga dalam pengembangan perangkat lunak, sebagai berikut:

a. Atribut produk (product attributes)

– Reliabilitas perangkat lunak yang diperlukan (RELY)

– Ukuran basis data aplikasi (DATA)

– Kompleksitas produk (CPLX)

b. Atribut perangkat keras (Computer Attributes)

– Waktu eksekusi program ketika dijalankan (TIME)

– Memori yang dipakai (STOR)

– Kecepatan mesin virtual (VIRT)

– Waktu yang diperlukan untuk mengeksekusi perintah (TURN)

c. Atribut sumber daya manusia (Personnel Attributes)

– Kemampuan analisis (ACAP)

– Kemampuan ahli perangkat lunak (PCAP)

– Pengalaman membuat aplikasi (AEXP)

– Pengalaman penggunaan mesin virtual (VEXP)

– Pengalaman dalam menggunakan bahasa pemrograman (LEXP)

d. Atribut proyek (Project Attributes)

– Penggunaan system pemrograman modern (MODP)

– Penggunaan perangkat lunak (TOOL)

– Jadwal pengembangan yang diperlukan (SCED)

3. Advance COCOMO

Menggabungkan semua karakteristik versi intermediate COCOMO dengan tambahan penilaian komponen biaya yang berpengaruh pada tahapan pengembangan perangkat lunak (analisis, desain, pengkodean, implementasi, dan pemeliharaan).

COCOMO diaplikasikan pada 3 kelas proyek, yaitu:

1. Mode Organic

• Diterapkan pada proyek pengembangan perangkat lunak sederhana dan tidak terlalu besar berkisar 2-50 KLOC

• Tim kecil yang berpengalaman

• Perangkat lunak yang dikembangkan biasanya bersifat fleksibel dengan tingkat inovasi rendah

2. Mode Semi Detached

• Diterapkan pada proyek yang agak kompleks berkisar 50-300 KLOC

• Personil dan tim agak besar berasal dari berbagai bidang dan tingkatan pengalaman yang bervariasi.

• Tingkat inovasi sedang

3. Mode Embedded

• Diterapkan pada proyek yang rumit dengan jumlah lebih besar dari 300 KLOC

• Memerlukan tim yang besar dan tingkat inovasi yang lebih baik

• Terdapat hubungan yang sangat kuat antara perangkat lunak, perangkat keras dan batasan operasi yang harus dipenuhi system.

 

 

Sumber:

http://singlesmilesoup.blogspot.com/2012/04/cocomo.html

http://blog.tp.ac.id/wp-content/uploads/11/download-084609040311handoutmp.pdf

 

 

By nti0402

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s