ilmu ekonomi dalam teori organisasi umum

Dalam kegiatan ekonomi atau kegiatan perdagangan, akan terjadi perbedaan tingkat harga dengan permintaan, penawaran dan harga. Hal ini mengartikan, dalam kegiatan ini adanya jalinan atau keterkaitan antara produsen(penjual) dengan konsumen(pembeli).

A. PERMINTAAN

Permintaan adalah sejumlah barang yang akan dibeli atau yang diminta pada tingkat harga tertentu dalam waktu tertentu.

Hukum permintaan berbunyi: apabila harga naik maka jumlah barang yang diminta akan mengalami penurunan, dan apabila harga turun maka jumlah barang yang diminta akan mengalami kenaikan. Dalam hukum permintaan jumlah barang yang diminta akan berbanding terbalik dengan tingkat harga barang. Kenaikan harga barang akan menyebabkan berkurangnya jumlah barang yang diminta, hal ini dikarenakan:

• naiknya harga menyebabkan turunnya daya beli konsumen dan akan berakibat berkurangnya jumlah permintaan

• naiknya harga barang akan menyebabkan konsumen mencari barang pengganti yang harganya lebih murah.

Kurva Permintaan adalah kurva yang menunjukkan hubungan berbagai jumlah barang dan jasa yang dibeli oleh konsumen pada berbagai tingkat harga. Kurva ini akan menghubungkan titik-titik koordinat pada sumbu harga (sumbu Y) dengan sumbu jumlah barang (sumbu X). Akibat dari adanya hukum permintaan tersebut, kurva permintaan menjadi miring dari kiri atas ke kanan bawah, sehingga kurva permintaan dikatakan mempunyai kemiringan negatif, karena variable – variable yang bekerja dalam pemintaan bekerjanya berlawanan arah. Kurva permintaan tidak mungkin menyentuh sumbu P karena berapapun harganya pasti ada konsumen yang bersedia untuk membeli barang yang dihasilkan.

Factor-faktor yang mempengaruhi permintaan yang akan menyebabkan keadaan (hukum permintaan tidak berlaku) tidak menjadi ceteris paribus dan mempengaruhi permintaan masyarakat, antara lain:

1. selera masyarakat, apabila selera konsumen terhadap suatu barang dan jasa tinggi maka akan diikuti dengan jumlah barang dan jasa yang diminta akan mengalami peningkatan. Contoh: permintaan terhadap telepon genggam.

2. jumlah pendapatan konsumen, apabila pendapatan konsumen semakin tinggi akan diikuti daya beli konsumen yang kuat dan mampu untuk membeli barang dan jasa dalam jumlah yang lebih besar, dan sebaliknya.

3. intensitas kebutuhan konsumen, bila suatu barang atau jasa sangat dibutuhkan secara mendesak dan dirasakan pokok oleh konsumen, maka jumlah permintaan akan mengalami peningkatan. Contoh: kebutuhan akan bahan pokok beras, konsumen bersedia membeli dalam jumlah harga tinggi, walaupun pemerintah sudah menetapkan harga pokok.

4. adanya barang subtitusi atau barang pengganti, konsumen akan cenderung mencari barang atau jasa yang harganya relatif murah untuk dijadikan alternative penggunaannya. Contoh: untuk seorang pelajar bila harga pulpen lebih mahal dari pensil, maka ia akan cenderung untuk membeli pensil.

5. perkiraan harga di masa datang, apabila konsumen menduga harga barang akan terus mengalami kenaikan di masa datang, maka konsumen cenderung untuk menambah jumlah barang yang dibelinya.

Permintaan dapat dibedakan menjadi :

1. Permintaan absolut : permintaan yang harus dipenuhi tanpa mempertimbangkan kemampuan

2. Permintaan potensial : permintaan yang disertai dengan kemampuan membeli

3. Permintaan efektif : permintaan yang benar – benar dilaksanakan

B. PENAWARAN

Penawaran adalah sejumlah barang yang ditawarkan pada tingkat harga tertentu dan waktu tertentu. Penawaran dapat diartikan sebagai kesediaan penjual untuk menjual berbagai jumlah produk pada berbagai tingkat harga dalam waktu yang sama.

Hukum Penawaran menyatakan bahwa: jumlah produk yang ditawarkan berbanding lurus dengan harga, atinya jika harga naik maka jumlah barang yang ditawarkan juga akan naik dan sebaliknya, ceteris paribus.

Kurva Penawaran adalah suatu kurva yang menunjukkan hubungan antara harga barang dengan jumlah barang yang ditawarkan. Kurva penawaran mempunyai kemiringan positif artinya variable-variabelnya bekerja dalam arah yang sama. Kurva penawaran miring dari kiri bawah ke kanan atas. Kurva penawaran dukatakan bertambah apabila kurvanya bergerak ke kanan bawah dan dikatakan berkurang apabila kurvanya bergerak ke kiri atas.

Factor-faktor yang mempengaruhi penawaran yang akan menyebabkan hukum penawaran tak berlaku atau keadaan menjadi tak ceteris paribus lagi, antara lain:

1. biaya produksi dan teknologi yang digunakan, jika biaya pembuatan/produksi suatu produk sangat tinggi maka produsen akan membuat produk lebih sedikit dengan harga jual yang mahal karena takut tidak mampu bersaing dengan produk sejenis dan produk tidak laku dijual.

2. tujuan perusahaan, perusahaan yang bertujuan mencari keuntungan sebesar-besarny akan menjual produknya dengan keuntungan yang besar sehingga harga jual jadi tinggi. Jika perusahaan ingin produknya laris dan menguasai pasar maka perusahaan menetapkan harga yang rendah dengan tingkat keuntungan yang rendah.

3. pajak, pajak yang naik akan menyebabkan harga jual jadi lebih tinggi sehingga perusahaan menawarkan lebih sedikit produk akibat permintaan konsumen yang turun.

4. ketersediaan dan harga barang pengganti/pelengkap, jika ada produk pesaing sejenis di pasar dengan harga yang murah maka konsumen akan ada yang beralih ke produk yang lebih murah sehingga terjadi penurunan permintaan, akhirnya penawaran pun dikurangi.

5. prediksi/perkiraan harga di masa depan, ketika harga jual naik di masa mendatang perusahaan akan mempersiapkan diri dengan memperbanyak output produksi dengan harapan bisa menawarkan/menjual lebih banyak ketika harga naik akibat berbagai factor.

C. HARGA PASAR

Dalam ilmu ekonomi, harga keseimbangan atau harga ekuilibrium adalah harga yang terbentuk pada titik pertemuan kurva permintaan dan kurva penawaran. Terbentuknya harga dan kuantitas keseimbangan di pasar merupakan hasil kesepakatan antara pembeli(konsumen) dan penjual(produsen) dimana kuantitas yang diminta dan yang ditawarkan sama besarnya. Jika keseimbangan ini telah tercapai, biasanya titik keseimbangan ini akan bertahan lama dan menjadi patokan pihak pembeli dan pihak penjual dalam menentukan harga.

D. ELASTISITAS

Salah satu pokok penting dalam fungsi permintaan dan penawaran adalah derajat kepekaan atau elastisitas jumlah barang yang diminta atau yang ditawarkan karena terjadinya perubahan salah satu factor yang mempengaruhinya. Ada 4 konsep elastisitas, yaitu:

1. Elastisitas Harga Permintaan

Elastisitas yang dapat dipergunakan untuk mengukur intesitas reaksi konsumen atau pembeli pada umumnya dalam bentuk perubahan jumlah barang yang diminta terhadap perubahan harga satuan barang tersebut, yang biasa disebut elastisitas harga permintaan, yang biasa disebut juga elastisitas harga.

Elastisitas harga permintaan adalah persentase perubahan jumlah barang yang diminta akibat terjadinya perubahan harga itu sendiri. Tanda elastisitas selalu negative, karena sifat hubungan yang berlawanan, maka disepakati bahwa elastisitas harga ini benar koefisiennya dapat kurang dari, sama dengan lebih besar dari satu, dan merupakan angka mutlak.

Ed =( (Q2-Q1)/Q) / ((P2-P1)/P)

• Ed > 1 disebut elastis yaitu menggambarkan perubahan harga yang menyebabkan perubahan permintaan dengan proporsi yang lebih besar.

• Ed < 1 disebut in elastis yaitu menggambarkan perubahan harga yang menyebabkan perubahan permintaan dengan proporsi yang lebih kecil.

• Ed = 1 disebut unitary elastis yaitu menggambarkan harga dan kuantitas produk yang diminta berubah dalam persentase yang sama dan saling mengkompensasi.

• Ed = 0 disebut in elastis sempurna yaitu perubahan harga tidak merubah permintaan barang.

• Ed = ~ disebut elastis sempurna yaitu menggambarkan produk sangat peka terhadap perubahan harga.

Factor yang mempengaruhi elastisitas permintaan

1. tingkat kemudahan barang tersebut digantikan oleh barang lain.

2. besarnya proporsi pendapatan yang digunakan untuk membeli suatu barang.

3. jangka waktu analisis perubahan-perubahan yang terjadi di pasar.

4. jenis barang yang dibutuhkan(barang pokok, barang mewah atau normal).

5. kemampuan relative anggaran untuk mengimpor barang.

2. Elastisitas Silang

Elastisitas silang (Ec) yaitu persentase perubahan jumlah barang yang diminta akibat terjadinya perubahan harga barang lain. Apabila hubungan kedua barang tersebut bersifat komplementer(pelengkap) terhadap barang lain itu, maka tanda elastisitas silangnya adalah negative, misalnya kenaikan harga tinta akan mengakibatkan penurunan permintaan terhadap pena. Apabila barang lain tersebut bersifat subtitusi (pengganti) maka tanda elastisitas silangnya adalah positif, misalnya kenaikan harga daging ayam akan mengakibatkan kenaikan jumlah permintaan terhadap daging sapi dan sebaliknya.

Ec = ((Qx2-Qx1)/(½(Qx1+Qx2)) / (Py2-Py1)/(½(Py1+Py2))

Jika nilai elastisitas adalah 0 berarti tidak ada hubungan antara suatu barang dengan barang lain.

3. Elastisitas Pendapatan

Elastisitas pendapatan (Ey) adalah persentase perubahan kuantitas barang yang diminta akibat terjadinya perubahan pendapatan.

Ey = ((Q2-Q1) / ½(Q1+Q2)) / ((Y2-Y1) / ½(Y1+Y2))

• Jika Ey = 1, maka 1% kenaikan dalam pendapatan akan menaikkan 1% jumlah barang yang diminta.

• Jika Ey > 1, maka orang akan membelanjakan bagian yang lebih besar dari pendapatan terhadap barang.

• Jika pendapatan naik, jika Ey < 1, maka orang akan membelanjakan bagian pendapatan yang lebih kecil untuk suatu barang, bila pendapatannya naik.

Apabila yang terjadi adalah kenaikan pendapatan yang berakibatkan naiknya jumlah barang yang diminta, maka tanda elastisitas tersebut adalah positif dan barang yang diminta disebut barang normal atau superior.

Apabila kenaikan dalam pendapatan tersebut berakibat berkurangnya jumlah suatu barang yang diminta, maka tanda elastisitas terhadap barang tersebut adalah negative dan barang ini disebut dengan barang inferior atau giffen.

E. BIAYA (COST)

Menurut Mulyadi(2005:8) menyatakan bahwa pengertian biaya dalam arti luas adalah “Biaya merupakan pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu”.

Menurut Sunarto (2003:4) menyatakan bahwa pengertian biaya yaitu : “ Biaya merupakan harga pokok atau bagiannya yang telah dimanfaatkan atau dikonsumsi untuk memperoleh pendapatan”.

Menurut Supriyono (2000:16), biaya adalah “harga perolehan yang dikorbankan atau digunakan dalam rangka memperoleh penghasilan atau revenue yang akan dipakai sebagai pengurang penghasilan.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat empat unsure dalam biaya, yaitu:

1. pengorbanan sumber ekonomis

2. diukur dalam satuan uang

3. telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi

4. untuk mencapai tujuan tertentu.

Macam-macam biaya menurut Mulyadi (2005:14) terdapat berbagai macam biaya dalam suatu perusahaan, yaitu:

1. biaya produksi, merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual.

2. biaya pemasaran, merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk.

3. biaya administrasi dan umum, merupakan biaya-biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produk.

Penggolongan biaya menurut Mulyadi (2005:13) terdapat berbagai macam cara penggolongan biaya, yaitu:

1. Penggolongan Biaya menurut Objek Pengeluaran

Dalam cara penggolongan ini, nama objek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya.

2. Penggolongan Biaya menurut Fungsi Pokok dalam Perusahaan

Dalam perusahaan industri, ada tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, dan fungsi administrasi dan umum. Oleh karena itu dalam perusahaan manufaktur, biaya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok:

a. Biaya produksi

b. Biaya pemasaran

c. Biaya administrasi dan umum.

3. Penggolongan Biaya Menurut Hubungan Biaya dengan Sesuatu yang dibiayai.

Sesuatu yang dibiayai dapat berupa produk atau departemen. Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokkan menjadi 2 golongan, yaitu:

a. Biaya Langsung (Direct Cost) adalah biaya yang terjadi yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai.

b. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost) adalah biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik (factory overhead costs).

4. Penggolongan Biaya Menurut Perilakunya dalam Hubungannya dengan Perubahan Volume Kegiatan.

Dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, biaya dapat digolongkan menjadi:

a. Biaya variable adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan

b. Biaya semivariabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semivariabel mengandung unsur biaya tetap dan unsure biaya variable.

c. Biaya semifixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi.

d. Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan tertentu.

5. Penggolongan Biaya Atas Dasar Jangka Waktu Manfaatnya

Atas dasar jangka waktu manfaatnya, biaya dapat dibagi menjadi dua, yaitu pengeluaran modal dan pengeluaran pendapatan. Pengeluaran modal (capital expenditures) adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode. Sedangkan pengeluaran pendapatan (revenue expenditures) adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntasi terjadinya pengeluaran tersebut.

F. PENDAPATAN (REVENUE)

Pendapatan atau penerimaan atau revenue adalah semua penerimaan produsen dari hasil penjualan barang atau outputnya. Macam-macam penerimaan (revenue), yaitu:

a. Total Revenue (TR) adalah penerimaan total dari hasil penjualan output.

TR = P . Q dimana: P = harga dan Q = jumlah barang

b. Average revenue (AR) adalah penerimaan per unit dari penjualan output.

AR = TR / Q = P.Q / Q

c. Marginal Revenue (MR) adalah kenaikan atau penurunan penerimaan sebagai akibat dari penambahan atau pengurangan satu unit output.

MR = ΔTR/ΔQ


G. STRUKTUR PASAR

Pembagian pasar didasarkan pada karateristik demand yang dihadapi oleh seorang produsen, kekuatan produsen serta jumlah produsen. Bentuk-bentuk struktur pasar konsumen, antara lain:

1. Pasar Persaingan Sempurna

Jenis pasar persaingan sempurna terjadi ketika jumlah produsen sangat banyak sekali dengan memproduksi produk yang sejenis dan mirip dengan jumlah konsumen yang banyak. Contoh produknya adalah seperti beras, gandum, batubara, kentang, dan lain-lain. Sifat-sifat pasar persaingan sempurna:

a. Jumlah penjual dan pembeli banyak

b. Barang yang dijual sejenis, serupa dan mirip satu sama lain

c. Penjual bersifat pengambil harga (price taker)

d. Harga ditentukan mekanisme pasar permintaan dan penawaran (demand and supply)

e. Posisi tawar konsumen kuat

f. Sulit memperoleh keuntungan diatas rata-rata

g. Sensitive terhadap perubahan harga

h. Mudah untuk masuk dan keluar dari pasar

i. Tidak ada campur tangan pemerintah

j. Produsen tidak dapat mempengaruhi harga

Kekuatan Pasar:

a. Harga jual produk yang termurah

b. Rasio output per produk maksimal

c. Masyarakat merasa nyaman (tidak perlu memilih barang)

Kelemahan pasar persaingan sempurna, antara lain adalah;

a. Asumsi mustahil terwujud

b. Lemah dalam pengembangan teknologi karena lama normal

c. Konflik efisiensi-keadilan.

2. Pasar Monopoli

Pasar monopoli akan terjadi jika di dalam pasar konsumen hanya terdiri dari satu produsen atau penjual tanpa pesaing langsung, tidak langsung, baik nyata maupun potensial. Contohnya seperti Microsoft windows, perusahaan listrik Negara (PLN), perusahaan kereta api (perumka), dan lain sebagainya. Sifat-sifat pasar monopoli:

a. Hanya terdapat satu penjual atau produsen

b. Harga dan jumlah kuantitas produk yang ditawarkan dikuasai oleh perusahaan monopoli

c. Umumnya monopili dijalankan oleh pemerintah untuk kepentingan hajat hidup orang banyak

d. Sangat sulit untuk masuk ke pasar karena peratutan undang-undang maupun butuh sumber daya yang sulit didapat

e. Hanya ada satu jenis produk tanpa adanya alternatif pilihan

f. Tidak butuh strategi dan promosi untuk sukses.

Faktor penyebab terbentuknya monopoli:

a. Adanya hambatan teknis (special knowledge, tingginya tingkat efisiensi, control sumber factor produksi)

b. Hambatan legalitas (undang-undang dan hak khusus, hak patent atau hak cipta)

Biaya social dari monopoli:

a. Berkurangnya kesejahteraan konsumen (dead weiht loss)

b. Memburuknya kondisi makroekonomi nasional

c. Memburuknya kondisi perekonomian internasional

Aspek positif dari monopoli:

a. Efisiensi dan pertumbuhan ekonomi: karena laba maksimal

b. Efisiensi pengadaan barang public: karena skala usaha yang besar

c. Peningkatan kesejahteraan masyarakat: dalam diskriminasi harga memungkinkan masyarakat dapat menjangkau harga sesuai kemampuan

3. Pasar Oligopoli

Pasar oligopoly adalah suatu bentuk persaingan pasar yang didominasi oleh beberapa produsen atau penjual dalam satu wilayah area. Contoh industri yang termasuk oligopoly adalah industri semen di Indonesia, industri mobil di Amerika Serikat, dan sebagainya, sifat-sifat pasar oligopoly:

a. Harga produk yang dijual relative sama

b. Pembedaan produk yang unggul merupakan kunci sukses

c. Sulit masuk ke pasar karena butuh sumber daya yang besar

d. Perubahan harga akan diikuti perusahaan lain

4. Pasar Monopolistic

Struktur pasar monopolistic terjadi manakala jumlah produsen atau penjual banyak dengan produk yang serupa/sejenis, namun dimana konsumen produk tersebut berbeda-beda antara produsen yang satu dengan yang lain. Contoh produknya adalah seperti makanan ringan (snack), nasi goring, pulpen, buku, dan sebagainya. Sifat-sifat pasar monopolistic:

a. Untuk unggul diperlukan keunggulan bersaing yang berbeda

b. Mirip dengan pasar persaingan sempurna

c. Brand yang menjadi cirri khas produk berbeda-beda

d. Produsen atau penjual hanya memiliki sedikit kekuatan merubah harga

e. Relative mudah keluar masuk pasar

H. UANG

Dari jaman dahulu masyarakat sudah mengetahui mengenai perdagangan, diawali dari perdangan dengan cara barter dan sampai saat ini orang sudah mendapatkan alat Bantu yang disebut uang dalam memudahkan pertukaran.

Uang dalam ilmu ekonomi tradisional didefinisikan sebagai setiap alat tukar yang dapat diterima secara umum. Alat tukar itu dapat berupa benda apapun yang dapat diterima oleh setiap orang di masyarakat dalam proses pertukaran barang dan jasa. Dalam ilmu ekonomi modern, uang didefinisikan sebagai sesuatu yang tersedia dan secara umum diterima sebagai alat pembayaran bagi pembelian barang-barang dan jasa-jasa serta kekayaan berharga lainnya serta untuk pembayaran hutang. Beberapa ahli mendefinisikan uang sebagai berikut: uang adalah sebagai alat tukar (A. C. Pigou), yang dapat diterima dalam pembayaran untuk mendapatkan barang-barang (D.H. Robertson) dan pembelian jasa serta kekayaan berharga lainnya dan dapat digunakan untuk pembayaran hutang (R.G.Thomas). secara umum uang dapat diartikan sebagai benda yang disetujui masyarakat sebagai alat perantara dalam kegiatan tukar menukar barang dan jasa, dan sebagai alat penghitung kekayaan.

Berdasarkan pengertian mengenai uang, maka kita dapat mengetahui syarat suatu benda dapat dijadikan uang, yaitu:

a. Dapat diterima oleh masyarakat umum (acceptability)

b. Tidak mengalami perubahan dan tidak cepat rusak (durability)

c. Nilainya tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu yang lama (stability of value)

d. Praktik dan mudah dibawa kemana-mana (portability)

e. Mudah dibagi-bagi tanpa mengurangi nilai (divisibility)

f. Kualitasnya relative sama (uniformity)

g. Jumlahnya terbatas dan tidak mudah dipalsukan (scarcity)

Dari beberapa pengertian mengenai uang, maka uang dapat dibedakan berdasarkan jenisnya, yaitu:

1. Uang Kartal

Uang kartal adalah uang yang digunakan sebagai alat pembayaran dalam kehidupan sehari-hari. Uang kartal berupa uang logam dan uang kertas, mata uang Negara kita adalah Rupiah, uang pertama yang dibuat oleh Indonesia adalah Oeang Republik Indonesia. Lembaga yang bertugas dan mengawasi peredaran uang rupiah adalah Bank Indonesia, sedangkan perusahaan yang mencetak uang rupiah adalah Perum Peruri (Percetakan Uang Republik Indonesia).

Menurut Undang-undang pokok bank Indonesia No. 11/1953, terdapat dua jenis uang kartal, yaitu: uang Negara dan uang bank.

Uang Negara, yaitu uang yang dikeluarkan oleh pemerintah, terbuat dari kertas yang memiliki ciri-ciri:

• Dikeluarkan oleh pemerintah

• Dijamin ileh undang-undang

• Bertuliskan nama Negara yang mengeluarkan

• Ditanda tangani oleh menteri keuangan

Namun, sejak berlakunya Undang-undang No 13/1968, uang Negara dihentikan peredarannya dan diganti dengan uang bank. Uang bank adalah uang yang dikeluarkan oleh Bank Sentral berupa uang logam dan uang kertas, ciri-cirinya sebagai berikut:

• Dikeluarkan oleh Bank Sentral

• Dijamin dengan emas atau valuta asing yang disimpan di bank sentral

• Bertuliskan nama bank sentral Negara yang bersangkutan (di Indonesia: Bank Indonesia)

• Ditanda tangani oleh gubernur bank sentral.

2. Uang Giral

Uang giral adalah surat berharga yang dapat diuangkan di bank atau d kantor pos. uang giral tercipta akibat semakin mendesaknya kebutuhan masyarakat akan adanya sebuah alat tukar yang lebih mudah, praktis dan aman. Di Indonesia, bank yang berhak menciptakan uang giral adalah bank umum selain Bank Indonesia. Contoh uang giral, cek, giro pos, wesel dan surat berharga. Uang giral biasanya digunakan untuk transaksi dengan nilai uang yang sangat besar.

Keuntungan menggunakan uang giral sebagai berikut:

• Memudahkan pembayaran karena tidak perlu menghitung uang

• Alat pembayaran yang dapat diterima untuk jumlah yang tidak terbatas, nilainya sesuai dengan yang dibutuhkan (yang ditulis oelh pemilik cek/bilyet biro)

• Lebih aman karena resiko uang hilang lebih kecil dan bila hilang bias segera dilaporkan ke bank yang mengeluarkan cek/bilyet giro dengan cara pemblokiran.

3. Uang Kuasi

Uang kuasi adalah surat-surat berharga yang dapat dijadikan sebagai alat pembayaran. Biasanya uang kuasi ini terdiri atas deposito berjangka dan tabungan serta rekening valuta asing milik swasta domestic.

Di Indonesia juga terdapat jenis uang beredar, yang teridiri dari 2 macam, yaitu:

1. Uang beredar dalam arti sempit (M1) yaitu kewajiban system moneter (bank sentral dan bank umum) terhadap sector swasta domestic (penduduk) meliputi uang kartal dan uang giral.

2. uang beredar dalam arti luas (M2) disebut juga Likuiditas perekonomian yaitu kewajiban system moneter terhadap sector swasta domestic meliputi M1 ditambah uang kuasi.


Sumber:

http://www.snapdrive.net/files/566570/BAB%20VIII-KUNCI.doc

http://id.wikipedia.org/wiki/Harga_keseimbangan

http://www.crayonpedia.org/mw/BAB17._PERMINTAAN_DAN_PENAWARAN_SERTA_TERBENTUKNYA_HARGA_PASAR#4._Hukum_Penawaran

http://organisasi.org/pengertian-permintaan-dan-penawaran-hukum-faktor-yang-mempengaruhi

http://faizulmubarak.wordpress.com/2009/11/04/bab-iii-konsep-elastisitas-penawaran-dan-permintaan/

http://blog.uad.ac.id/aftoni/files/2009/06/elastisitas-permintaan-dan-penawaran.ppt

http://dspace.widyatama.ac.id/bitstream/handle/10364/601/bab2.pdf?sequence=5

pengantar ekonomi

http://elearning.esaunggul.ac.id/file.php?file=%2F922%2FBAB_V.3._Keuntungan_Optimal.rtf

http://www.docstoc.com/docs/18361717/PENGANTAR-ILMU-EKONOMI-PENGANTAR-ILMU-EKONOMI-II

http://id.wikipedia.org/wiki/Jenis-jenis_uang

http://www.e-dukasi.net/mapok/mp_full.php?id=348&fname=materi02.html

By nti0402

One comment on “ilmu ekonomi dalam teori organisasi umum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s